Ternyata Hal Ini yang Membedakan Sekolah Internasional dengan Sekolah Nasional

Ternyata Hal Ini yang Membedakan Sekolah Internasional dengan Sekolah Nasional

Di Indonesia terdapat sekolah internasional dan nasional. Sekolah nasional, bagus negeri atau swasta, yaitu sekolah yang memenuhi standar nasional pengajaran (SNP).

Meskipun, sekolah internasional ialah sekolah yang mengedepankan pengajaran berbasis global.

Sekolah internasional sendiri telah berganti nama semenjak dilegalkannya Undang-undang Menteri Pengajaran dan Kebudayaan No. 31/2014. Sekarang sekolah internasional mempunyai sebutan Satuan Pengajaran Kerjasama yang disingkat SPK.

Sekolah internasional mempunyai sejumlah perbedaan mendasar diperbandingkan sekolah nasional. Berikut kumparan rangkum lima perbedaannya.

1. Bahasa

Soal bahasa, Desy mengaku sungguh-sungguh dapat memacu kecakapan bahasa Inggris-nya selama menjadi siswa di sekolah internasional. Karena, tiap-tiap harinya dia berbincang-bincang bahasa Inggris dengan 25 sahabat sekelasnya.

“Ada bahasa Indonesia tetapi sebagai bahasa kedua,” sebutnya.

Baca Jugahttp://wartakota.tribunnews.com/2018/11/09/membahagiakan-para-siswa-dalam-acara-childrens-day

2. Kurikulum

Terang, hal yang paling berbeda dari sekolah internasional merupakan kurikulumnya. Berdasarkan Rima –nama samaran– salah satu tamatan sekolah internasional, kebanyakan sekolah internasional di Indonesia menerapkan kurikulum International Baccalaureate (IB) atau International General Certificate of Secondary Education (IGCSE).

“Jikalau Binus kurikulumnya IB. IB itu jadi IPA dan IPS. Pelajarannya dibagi, ada yang higher tingkatan sama standard tingkatan. Tingkat kesusahannya beda-beda,” kata Rima.

Melainkan, di sekolahnya enggak mengaplikasikan penjurusan IPA dan IPS. Sebab segala murid pasti ada minimal satu mata pembelajaran alami science (IPA) dan satu social science (IPS).

“Jadi intnya mata pembelajaran sepatutnya itu Theory of Knowledge, dua Bahasa, Matematika, satu IPA, satu IPS dan satu opsional itu Seni. Jikalau enggak berkeinginan Seni boleh ambil tambahan satu IPA atau IPS,” jelasnya.

Hal itu membikin metode belajarnya mirip dengan perguruan tinggi. “Jadwal kau berbeda dengan sahabat-temanmu, sedangkan satu kelas. Sebab tergantung kau ambil mata pembelajaran apa,” ujar Rima.

Berbeda halnya dengan Desy, pelajar Mahatma Gandhi School, yang menyebut di sekolahnya cuma dibagi penjurusan science dan commerce. Mata pembelajaran yang akan diambil oleh siswa malahan dibebaskan

“Saya ambil science, dan dapat milih antara Biologi, Ekonomi, atau Teknologi Kabar. Dan saya pilih Ekonomi. Sesungguhnya agak lumayan sulit sebab pada dasarnya ambil IPA, tetapi belajar Ekonomi juga. Jadi muter-muter gitu. Hehehe…,” tuturnya.

3. Guru

Gina, salah satu tamatan International Islamic Boarding School (IIBS), mengatakan cuma mempunyai satu guru asing yang mendidik Bahasa Inggris.

Selebihnya merupakan guru asal Indonesia. Meskipun demikian itu, Gina konsisten patut berbincang-bincang dalam bahasa Inggris di lingkungan sekolah.

Lain halnya dengan Desy, yang dididik oleh guru asing untuk berjenis-jenis mata pembelajaran. “Ada India, Filipina, Singapura, hingga Bangladesh,” ucap ia.

4. Tugas sekolah

Siswa di sekolah internasional juga memperoleh tugas yang berbeda di sekolah. Rima mencontohkan, untuk pembelajaran Human Sciences seperti Biologi, Kimia, dan Fisika, umumnya ditugaskan untuk membikin eksperimen sendiri.

“Jadi mulai dari hipotesis, cara, pembahasan, hingga konklusi (dilaksanakan sendiri). Jikalau mata pembelajaran Bahasa Inggris atau Bahasa Indonesia, ditugaskan buat makalah kayak analitik novel, puisi, atau cerpen. Kayak makalah si kecil kuliah gitu,” jelas Rima.

 

 

Baca Juga: saint monica kelapa gading