RI Harus Dapat Bertahan dari Serbuan Impor Baja yang Masuk

RI Harus Dapat Bertahan dari Serbuan Impor Baja yang Masuk

Industri dalam negeri berpotensi menjadi target serbuan produk baja impor menyusul produksi baja secara global melonjak lantaran Amerika Serikat (AS) menjalankan pengetatan impor dengan menaikkan biaya bea masuk sebesar 25 persen.

Kebijakan ini diukur akan memberi pengaruh permintaan dan penawaran di pasar baja global termasuk membawa efek bagi keadaan produsen baja di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Pengaplikasian bea masuk yang tinggi akan membikin produsen baja yang selama ini menyuplai ke AS beralih ke Indonesia. Apalagi, keperluan baja di dalam negeri masih besar seiring maraknya proyek infrastruktur.

Pemerintah via Kementerian Perindustrian malah menegaskan akan berusaha melindungi pasar industri baja dalam negeri via sinkronisasi kebijakan yang berpihak terhadap para pelaku industri nasional.

Baca Juga: Kualitas besi siku di perusahaan ini terbaik, Ini Faktanya!

Pasalnya, keperluan baja dalam negeri diprediksi akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional.

Industri besi dan baja ialah industri prioritas yang mengatur peranan penting bagi pengembangan industri lainnya. Maklum besi dan baja merupakan bahan baku dasar bagi industri lainnya seperti industri galangan kapal (marine construction), industri sektor minyak dan gas, industri alat berat, automotif, dan elektronika.

“Apalagi, sebagai bagian dasar pertumbuhan ekonomi di tiap negara, industri baja disebut sebagai the mother of industries yang ialah tulang punggung bagi kesibukan sektor industri lainnya, seperti permesinan dan perlengkapan, otomotif, maritim, serta elektronik,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto via keterangan legal yang dikutip Rabu (27/6/2018).

Airlangga menyuarakan, produsen baja di negara-negara berkembang tengah mengantisipasi kelebihan kapasitas baja global yang mengalami surplus kepada kapasitas produksi sampai 700 juta metrik ton pada tahun lalu.

“Pada 2017, produksi crude steel (baja kasar) secara global menempuh 1,7 miliar ton, hampir 50 persennya berasal dari Tiongkok. sementara Asia Tenggara menjadikan 1,5 persen,” ungkapnya.

Keadaan hal yang demikian, diproyeksi Airlangga bakal berakibat kepada sebagian aspek–di antaranya merupakan harga, lapangan profesi, tingkat utilisasi dan laba bagi produsen baja.

“Kecuali itu berisiko kepada keberlangsungan industri serta berakibat pada pertumbuhan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.

Kementerian Perindustrian mencatat, sempurna keperluan nasional pada crude steel nasional menempuh 14 juta ton. Melainkan, produsen baja lokal cuma mempunyai kapasitas produksi sebanyak 8 sampai 9 juta ton per tahun. Meski sisanya seharusnya diimpor dari Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, India dan lain-lain.

Menurut data Badan Sentra Statistik Indonesia (BPS) per Mei 2018, poin impor besi dan baja yang dilaksanakan Indonesia menempuh 4,2 miliar AS (Rp59,6 triliun) dengan volume 8.018,9 ribu ton. Angka hal yang demikian jauh lebih tinggi jikalau diperbandingkan dengan ekspor baja nasional yang cuma menempuh 166,2 juta dolar.

Mengamati keadaan hal yang demikian, pemerintah akan mensupport peningkatan kapasitas produksi industri baja nasional untuk dibimbing pada pengembangan produk khusus bernilai tambah tinggi guna mengurangi ketergantungan impor.

Sejumlah upaya disiapkan mulai dari pengaplikasian Standar Nasional Indonesia (SNI) patut, kenaikan biaya bea masuk, serta penurunan harga gas dan bagian kenaikan biaya dasar listrik (TDL).

Sementara itu, berdasarkan Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Mas Wigrantoro Roes Setiyadi yang juga sebagai Ketua Biasa Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (The Indonesian Iron and Steel Industries Association/IISIA), industri baja nasional masih mempunyai kesempatan besar untuk mengoptimalkan bisnisnya.

Menurutnya, ketika ini jumlah perusahaan industri baja nasional sebanyak 352 unit yang tersebar antara lain di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Beberapa besar industri baja masih berkonsentrasi di Pulau Jawa dengan perembesan energi kerja sebanyak 200 ribu orang dan kapasitas sebesar 14 juta ton per tahun.

“Data terakhir menampilkan peningkatan konsumsi baja yang signifikan, dari 12,67 juta ton di 2016 menjadi 13,59 juta ton pada 2017,” ungkapnya dikutip Kontan, Rabu (27/6).

Melainkan demikian, industri baja nasional masih memerlukan solusi bentang panjang untuk menyeimbangkan kesanggupan sektor hulu dan hilir supaya kian terintegrasi

Baca Juga: plat bordes digunakan untuk apa saja? Cek informasinya